Rabu, 25 Juni 2014


USULAN PENELITIAN

HUBUNGAN LAMA BEKERJA DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN
DI RUMAH SAKIT BAPTIS





 




















ANGGOTA KELOMPOK :
1.     AGUNG BAHTIAR PRANATA
2.     YUNA NURUL OKTAVIANI
3.     YUNITA WULANDARI
4.     INNOCENTIUS SUBAHARDI






PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
2013
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN KATA PENGANTAR ............................................................. ii
HALAMAN DAFTAR ISI .......................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang ................................................................................... 1
  2. Rumusan Masalah ............................................................................. 4
  3. Tujuan ................................................................................................ 4
  4. Manfaat .............................................................................................. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
  1. Landasan Teori ...................................................................................6
  2. Kerangka konseptual penelitian .......................................................12
  3. Hipotesis penelitian...........................................................................12

BAB III. METODE PENELITIAN
  1. Desain Penelitian...............................................................................13
  2. Kerangka Kerja ................................................................................ 13
  3. Populasi, Sampel, dan Sampling.......................................................14
  4. Variabel Penelitian........................................................................... 15
  5. Definisi Operasional ........................................................................ 15
  6. Rencana Pengumpulan dan Pengelolaan Data ................................ 16
1.      Bahan dan Instrumen Penelitian............................................16
2.      Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................17
3.      Prosedur Rencana Pengumpulan Data..................................17
4.      Rencana Analisis Data..........................................................18
  1. Etika Penelitian ................................................................................ 20

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 22

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Peningkatan mutu pelayanan kesehatan menjadi salah satu tujuan utama dari berbagai tatanan pelayanan kesehatan saat ini. Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat sesuai standar yang ditetapkan. (Wijono, 1999)
Keberhasilan suatu rumah sakit dalam menjalankan fungsinya ditandai dengan adanya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Mutu rumah sakit sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang dominan adalah sumber daya manusia.(depkes,2002).
Pelayanan keperawatan adalah bentuk pelayanan keperawatan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan Bio-Psiko-Sosio Spiritual yang komprehensif ditujukan tenaga keperawatan yang memiliki kompetensi yang professional sehat Bio-Sosio-Spiritual, iklim kerja yang kondusif, manajemen yang baik. (Swansburg, 1999)
Instalasi gawat darurat (IGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, pelayanan gawat darurat adalah salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan disebuah rumah sakit. Setiap rumah sakit pasti memiliki layanan IGD yang melayani pelayanan medis 24 jam dengan beberapa dokter dan perawat yang melayaninya.
Menurut Mangkunegara (2002), perawat yang bekerja dengan stress yang tinggi, bila dibiarkan, akan menyebabkan terjadinya kelelahan kerja. Hasil penelitian tentang kelelahan diantara staf keperawatan di dua rumah sakit Finish di Finlandia, dengan sampel sebanyak 723 perawat, dapat menggambarkan bahwa setengah dari jumlah perawat tersebut memperlihatkan indikasi frustasi atau stres kerja kejadiannya meningkat sesuai dengan pertambahan umur.
Menurut survei dari PPNI tahun 2006, sekitar 50,9 persen perawat yang bekerja di 4 provinsi di indonesia mengalami stres kerja, sering merasa pusing, lelah, tidak bisa beristirahat karena beban kerja terlalu tinggi, dan menyita waktu, gaji rendah tanpa insentif memadai, namun perawat yang bekerja di RS swasta dengan gaji lebih baik ternyata mengalami stres kerja lebih besar dibandingkan perawat yang bekerja di RS pemerintah dengan penghasilan lebih rendah.
Pekerjaan seorang perawat sangatlah berat, dari satu sisi, seorang perawat harus menjalankan tugas yang menyangkut kelangsungan hidup pasien yang dirawat, disisilain keadaan psikologis perawat sendiri juga harus tetap terjaga, kondisi seperti inilah yang dapat menimbulkan rasa tertekan pada perawat. Sehingga dia mudah mengalami stres, stres merupakan ketegangan mental yang mengganggu kondisi emosional, proses berpikir, dan kondisi fisik seseorang (davis, 1996). Stres yang berlebihan akan berakibat buruk terhadap individu untuk berhubungan dengan lingkungan secara normal. Akibatnya kinerja mereka menjadi buruk dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap organisasi dimana mereka bekerja. Berdasarkan fenomena yang terjadi, perawat yang bertugas di instalasi gawat darurat memiliki stressor yang tinggi karena perawat setiap hari akan berhadapan dengan aspek lingkungan fisik dan lingkungan psikososial yang tinggi dari pekerjaannya. Ketidak mampuan perawat dalam menjawab tuntutan lingkungan akan menimbulkan situasi stres dalam lingkungan kerja sehingga secara sadar ataupun tidak, dapat mempengaruhi kinerja dan prilaku perawat itu sendiri. Jam kerja adalah waktu yang digunakan saat bekerja disuatu instansi yang memiliki batas dan peraturan jam masuk dan jam pulang. Menurut penelitian firlandia, bekerja lebih dari 8 jam /hari, penelitian dilakukan 12 penelitian tahun 1958 dengan jumlah 22.000 orang diseluruh dunia dengan hasilnya yang melakukan pekerjaan lebih dari 8 jam beresiko 40- 80% lebih besar terkena penyakit jantung.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               Rumah Sakit BAPTIS menerima pelayanan kesehatan masyarakat umum. Sehingga jumlah pasien instalasi gawat darurat cukup banyak. Dan berpariasi, jumlah pasien per tiga bulan oktober- desember 2012 jumlah paien Bedah rawat jalan 1413 orang, rawat inapnya 625 orang. Jumlah pasien kasus medik rawat inapnya 1145 orang, rawat jalan 1960 orang.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis tanggal 15 oktober 2012 banyaknya perawat khususnya yang perawat pelaksana mengalami lelah saat bekerja dan bosan karena jam kerja yang panjang, dimana jam kerjanya selama 12 jam/shift dalam satu hari. Jadwal kerjanya dimulai dari jam 7.00 – 19.00 wib untuk J1(jaga satu), jam 19 – 8.00 wib untuk J2 (jaga dua). Dimana terdiri dari 4 tim dan masing masing tim terdiri dari 7 atau 8 perawatnya ditambah pembantu perawat 1 orang/ tim. Jumlah perawat IGD keseluruhan adalah 42 orang dimana perawat yang jaga pagi dari jam 7.00 – 15.00 wib perawatnya berjumlah 12 orang dan 30 orang masuk dalam Tim. sehingga sangat sulit untuk mengambil libur karena adanya ketetapan jadwal kerja, bila ada perawat yang sedang kuliah, sakit atau tidak masuk perawat pengantinya adalah perawat pagi. setiap bulannya ada beberapa perawat yang absen dan juga sakit yang tidak serius dan memutuskan tidak masuk kerja, dan suka mengeluh pusing dan saat kerja tidak maksimal, jam kunjung pasien terkadang banyak pada saat sore hari dimana poli klinik sudah tutup. berkisar jam 14 – 18 jumlah pasien ke IGD banyak dan terkadang perawatnya sudah kewalahan, sehingga pasien kadang lama untuk ditangani , apalagi pasien yang datang dengan kasus emergency yang membutuhkan tenaga perawat yang lebih dari satu. Penulis mengamati selama setahun ini tidak sedikit Perawat Instalasi gadar banyak yang sakit, bahkan setiap dinas pagi banyak yang mengeluh sakit kepala, tidak sedikit saat bekerja tidak maksimal,dan banyak yang pergi saat dinas mengerjakan kepentingan pribadi dan tangung jawabnya terabaikan, pasien yang dirujuk ke RSPAD kebanyakan pasien yang sudah krisis dan dimana keluarga berharap besar akan kesembuhan keluarganya setelah dirujuk ke RSPAD. Penumpukan pasien di Instalasi perawatan juga sering terjadi karena ruangan tidak ada yang kosong terutama membutuhkan ruangan ICU, sehingga pasien di IGD dengan waktu yang cukup lama terkadang sampai 3 hari, dan perawat dengan jam kerja yang panjang membuat produktifitas kerja menurun, dan kelelahan kerja sehingga banyaknya pekerjaan yang tidak dapat dilakukan dengan maksimal oleh perawat sehingga dapat menimbulkan tingkat stres kerja perawat. Dengan fenomena diatas penulis tertarik untuk meneliti adakah hubungan antara jam kerja dengan stres kerja perawat Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit BAPTIS Kediri. Stres kerja kalau tidak ditangani dengan baik dan sedini mungkin yang dialami perawat sangat berkaitan dengan kinerja dan kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit, dengan itu sangat perlu untuk mengetahui jam kerja berhubungan dengan tingkat stres kerja perawat, karena perawat merupakan ujung tombak dari pelayanan rumah sakit, dan perawat dapat mengidentifikasi tingkat stres yang dialaminya.

B.     RUMUSAN MASALAH
Lama jam kerja perawat akan mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan pada pasien selama di rumah sakit, hal itu disebabkan karena faktor stress dan kelelahan kerja, sehingga  penting mengetahui penyebab stress dari lama jam kerja perawat di Instalasi gawat darurat Rumah Sakit BAPTIS.
Dengan pernyataan diatas dapat dirumuskan “Bagaimanakah hubungan antara lama jam kerja dengan kualitas pelayanan kesehatan di IGD Rumah Sakit BAPTIS?”

C.    TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara jam kerja perawat dan kualitas pelayanan kesehatan di instalasi gawat darurat Rumah Sakit BAPTIS.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mengidentifikasi Lama Kerja perawat IGD di Rumah Sakit BAPTIS.
b.      Mengidentifikasi Pelayanan Kesehatan perawat IGD di Rumah Sakit BAPTIS.
c.       Menganalisa hubungan antara lama kerja dan stres kerja perawat IGD di Rumah Sakit BAPTIS.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat teoristis :
Melalui penelitian ini di harapkan dapat menambah khazanah ilmu keperawatan berkaitan dengan jam kerja yang mempengaruhi tingkat stres kerja perawat terhadap pemeberian pelayanan kesehatan. Secara teoristis, akan di peroleh gambaran mengenai situasi dan kondisi IGD terhadap tingkat stres kerja perawat yang bertugas di dalamnya.
2. Manfaat Praktis.

a. Bagi perawat Instalasi Gawat Darurat.
Melalui penelitian ini peneliti mengharapkan dapat memberikan masukan kepada perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat mengenai tingkat stres kerja yang telah mereka alami.Masukan ini dapat membantu perawat untuk dapat mengenali tingkat stres kerja perawat sendiri. Sehingga perawat IGD dapat melakukan tindakan tertentu dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik.
b. Bagi Rumah Sakit
Bagi institusi Rumah Sakit, Melalui penelitian ini akan memperoleh bahan untuk mengevaluasi sistem kerja IGD untuk dapat memaksimalkan tugas, potensi serta kemampuan IGD dalam memberikan pelayanan kesehatan. Jam kerja yang mempengaruhi tingkat stres kerja perawat IGD, SehinggaRumah Sakit dapat melakukan langkah langkah yang di rasa perlu untuk menunjang performa perawat dalam melaksanakan tugasnya.
c. Bagi Penelitian
Dapat bermanfaat menambah wawasan pengetahuan dan mengaplikasikan dalam pengembangan pelayanan keperawatan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Landasan Teori
Notoadmodjo (2009) mendefinisikan kinerja adalah apa yang dapat dikerjakan oleh seseorang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dari batasan-batasan yang ada dapat dirumuskan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dapat ditampilkan atau penampilan kerja seorang karyawan. Dengan dimikian kinerja seorang karyawan dapat diukur dari hasil kerja, hasil tugas, atau hasil kegiatan dalam kurun waktu tertentu. Menurut Mangkunegara (2009: 67) Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (Prestasi kerja atau prestasi sesunguhnya yang dicapai oleh seseorang) dan kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kwantitas yang di capai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja merupakan penampilan hasil kerja pegawai baik secara kuantitas maupun kualitas (cokroaminoto, 2007). Sedangkan menurut Robbins (2006) kinerja merupakan hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu didalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target/sasaran atau kriteria. Kemudian menurut Hasibuan (2001) menegmukakan kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Berdasarkan hasil pengertian diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan yang diperoleh dari proses belajar.
Kualitas pelayanan merupakan stadard yang harus diupayakan apabila kantor ingin memberikan kontribusi yang optimal pada pemakai jasa layanan. Pengguna jasa kantor akan mempunyai perasaan dimudahkan dan dilayani segala keperluan warga masyarakat dan penyelesaian permasalahan yang dirasakan oleh masyarakat. Kualitas ini meliputi aktivitas kegiatan yang harus dilalui oleh pekerjan kantor untuk memenuhi hasil/produk yang harus dipenuhi oleh penguna jasa. Secara spesifik kegiatan tersebut merupakan metode, prosedur maupun sistem yang ada sebagai satu kesatuan untuk menghasilkan layanan yang memuaskan Di sisi lain peningkatan pelayanan publik juga tidak lepas dari upaya perubahan dari SDM organisasinya, sebagaimana dikatakan John Dilulio (1994) bahwa deregulating the public service means changing personnel and procurement employes.
Menurut Nursalam 2002, faktor yang mempengaruhi perkembangan perawat secara profesional adalah sebagai berikut:
1.    Antheical terhadap pakerjaan keperawatan. Karena rendahnya dasar pendidikan profesi dan belum dilaksanakanya pendidikan keperawatan secara profesional, perawat lebih cenderung untuk melaksanakan perannya secara rutinitas dan menunggu perintah dari dokter.
2.    Rendahnya rasa percaya diri. Perawat belum mampu menyediakan dirinya sebagai sumber informasi bagi klien, rendahnya rasa percaya diri disebabkan oleh karena rendahnya pendidikan, rendahnya pengetauan, dan tehnologi-tehnologi yang memadai.
3.    Kurangnya pemahaman dan sikap untuk melaksanakan riset keperawatan. Pengetahuan dan keterampilan perawat terhadap riset masih sangat rendah. Hal ini ditunjukan dengan rendahnya hasil riset di bandingkan dengan profesi yang lain.
4.    Rendahnya standar Gaji. Bagi perawat yang bekerja pada institusi pemerintah di dalam negeri dirasakan masih rendahnya bila dibandingkan dengan negeri lain. Rendahnya gaji perawat berdampak pada asuhan keperawatan yang profesional.
5.    Sangat minimya perawat yang menduduki jabatan struktural di Institusi kesehatan. Masalah ini sangat mempengaruhi dalam perkembangan profesi keperawatan, karena sistim sangat berpengaruh terhadap terselenggaranya pelayanan yang baik.
Sedangkan menurut Mangkunegara  (2009:67) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja itu antara lain:
1)        Faktor kemampuan. Secara psikologis  kemampuan (ability) pegawai terdiri dari  kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan  realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlianya.
2)        Faktor motivasi. Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situasion) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan  diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Sikap mental merupakan  kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal. David C. Mc.Cleland (1997) seperti dikutip oleh Mangkunegara (2001:68), berpendapat bahwa “Ada hubungan yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja”. Motif berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik baiknya agar mampu mencapai prestasi  kerja (kinerja) dengan predikat tepuji.
Selanjutnya Mc. Clelland, mengemukakan 6 karateristik dari seseorang yang memiliki motif yang tinggi yaitu :
1)      Memiliki  tanggung jawab yang tinggi
2)      Berani mengambil resiko
3)      Memiliki tujuan yang realistis
4)      Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk meralisasi tujuan
5)      Memanfaatkan umpan balik yang kongkrit dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukan
6)      Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan
Menurut Mangkunegara 2000 yang mencuplik dari Mc Cellend seorang yang mempunyai kinerja maksimal jika memilliki motif yang tinggi, motif yang dimiliki seorang pegawai harus ada dalam diri sendiri dan lingkungan kerja.
Dan menurut Gibson (1997) yang dikutip dari buku Notoadmodjo (2009:124) dalam Buku Pengembangan Sumber Daya Manusia, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dan kinerja adalah :
1)              Faktor individu (internal) meliputi: pemahaman terhadap pekerjaannya, pengalaman kerja, latar belakang keluarga, tingkat sosial ekonomi, dan faktor demografi (umur, jenis kelamin, etnis, dan sebagainya)
2)              Faktor organisasi (eksternal) meliputi: Sumber daya manusia, kepemimpinan, desain pekerjaan, struktur organisasi
3)              Faktor psikologis meliputi : persepsi terhadap pekerjaan, sikap terhadap pekerjaan, Motivasi dari dalam diri individu masing-masing kepribadian.
Penilaian kinerja perawat
Penilaian kerja merupakan alat yang paling dipercaya oleh manejer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia yang produktivitas.  Proses penilain kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kuwalitas dan volume yang tinggi (swanbrung, 1987 dikutip oleh Nursalam,2000:307). dan sedangkan menurut Sikula (1981: 205) yang kutip oleh Mangkunegara (2009)  “Penilaian kinerja merupakan evaluasi yang sistimatis dari pekerjaan pegawai dan potensi yang dapat dikembangkan ”.
Tujuan penilaian kinerja
Tujuan penilaian kinerja secara umum adalah untuk menghasilkan informasi yang akurat dan sahih berkenan dengan perilaku dan kinerja anggota organisasi. Dalam pendekatan pengembangan seorang pemimpin mencoba untuk meningkatkan kinerja seorang individu dimasa mendatang. Aspek pengembangan dari penilaian kinerja mendorong pertumbuhan pegawai. Dengan mengkombinasikan baik aspek evaluasi maupun aspek pengembangan, penilaian kinerja haruslah (1) menyediakan basis bagi tindakan-tindakan personalia; dan (2) meningkatkan pendayagunaan sumberdaya manusia melalui penempatan pekerjaan yang lebih baik dan spesifikasi kebutuhan-kebutuhan latihan (waalker, dalam hasibuan, 2003:132).
Penilaian kinerja pegawai merupakan salah satu fungsi penting manajemen. Ada beberapa alasan perlunya dikembangkan sistem penilaian kinerja yang lebih efektif (As’ad, 2003):
a.       Merasa tidak puas atau kondisi/kinerja saat ini
b.      Kejelasan akan target atau perilaku yang harus dicapai
c.       Kejelasan tentang bagaimana caranya untuk mencapai target dan merubah perilaku yang diharapkan
d.      Penghargaan yang akan didapat apabila telah memperbaiki kinerja/mencapai target dan perilakunya.
Prisip-prinsip penilaian
Menurut Gilles (1996), untuk mengevaluasi bawahan secara tepat dan adil, maka menejer sebaiknya mengunakan prinsip- prinsip tertentu.
1.           Evaluasi pekerjaan seharusnya didasarkan pada standart pelaksanan kerja orientasi tingkah laku untuk posisi yang ditempati (Rommber, 1986 dikutip gilles 1996). karena diskripsi kerja dan standart  dan pelaksanan kerja dilaksanakan ke pegawai selama orientasi sebagai tujuan yang harus dilaksanakan, pelaksanan kerja seharusnya dievaluasi berkenaan dengan sasaran yang sama.
2.           Sampai tingkah laku perawat yang persentatif sebaiknya diamati dalam rangka evaluasi pelaksanaan kerjanya. Penelitian harus diberikan untuk mengevaluasi tingkah laku umum atau tingkah laku konsistennya serta guna menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan.
3.           Perawat sebaiknya diberi salinan kerjanya, standart pelaksanan kerja, dan bentuk evaluasi untuk peninjauan ulang sebelum pertemuan evaluasi sehinga sebaiknya perawat maupun supervisior dapat mendiskusikan evaluasi dari kerangka yang sama.
4.           Didalam melaksanakan penulisan pelaksanan penilaian kerja pegawai, menejer sebaiknya menunjukkan segi-segi dimana pelaksananya kerja itu bisa memuaskan dan perbaikan apa yang diperlukan. Supervisior sebaiknya merujuk pada contoh kasus-kasus yang mengenai tingkah laku yang memuaskan maupun yang tidak memuaskan supaya dapat menjelaskan dasar-dasar komentar yang bersifat evaluatif.
5.           Jika diperlukan menejer menjelaskan area mana yang diprioritaskan seiring dengan usaha perawat untuk meningkatkan pelaksanan kerja.
6.           Pertemuan evaluasi sebaiknya dilakukan pada waktu yang cocok bagi perawat dan menejer, diskusi evaluasi sebaiknya dilakukan dalam waktu yang cocok untuk keduanya.
Menurut Notoatmodjo (2003,143) dalam buku pengembangan sumber daya manusia, prinsip penilaian kerja antara lain:
1.          Penilaian harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan (job realated), artinya system penilaian harus benar-benar menilai prilaku atau kinerja.
2.          Adanya standart pelaksanaan kerja (performance standart): Standart pelaksanaan adalah ukuran yang dipakai untuk menilai  prestasi  kerja .
3.          Sistem penilaian yang praktis mudah dipahami dan mudah dimengerti dan  mudah digunakan baik oleh penilai maupun karyawan.





Text Box: KAPASITAS KERJA:
a. Jenis kelamin
b. Usia
c. Pendidikan
d. Keterampilan
 B. Kerangka Konseptual Penelitian
KELELAHAN KERJA
 
                                                                          



 









Ket :
-          - - - - - - - - - - - -      = tidak diteliti
-                                           = diteliti

C.    Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis yaitu: Ada hubungan antara lama jam bekerja dengan kualitas pelayanan kesehatan pada IGD di Rumah Sakit BAPTIS.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Desain Penelitian
Desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian, memungkinkan pengontrolan maksimal beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akurasi suatu hasil (Nursalam, 2008 : 77).
Dalam studi ini rancangan jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Analitik observasional adalah penelitian dengan melakukan pengamatan yang meliputi melihat dan memncatat hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Cross sectional dimana jenis penelitian ini yang menekankan waktu pengukuran/observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2008 : 83).
B. 
Populasi
Seluruh tenaga perawat di IGD Rumah Sakit BAPTIS
 
Kerangka Kerja
Pengumpulan data
Menggunakan instrumen : Identitas perawat, Lembar pencatatan hasil pengukuran stres kerja dan kelelahan kerja dan Kuesioner HRSA.
 







Analisa data
Menggunakan  Uji univariat dan bivariat.
 






Kesimpulan
 
 




C.  Populasi, Sample dan Sampling
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga perawat di IGD Rumah Sakit BAPTIS berjumlah 40 orang
2.      Sample
n =             N
           1 + N (d)²
   =             40                    = 36,3
         1 + 40 (0,05)²
Jadi sample dalam penelitian ini berjumlah 36 orang.
3.      Sampling
Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Purposive sampling berarti pemilihan sekelompok subjek dengan jumlah yang telah ditentukan terlebih dahulu berdasarkan ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi. Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah perawat IGD RSPAD Gatot Soebroto, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Usia : 20-40 tahun
§  Hal ini dimaksud karena pada umur tersebut tenaga kerja memiliki kekuatan otot yang optimal dan tenaga kerja berada dalam usia produktif.
§  Merupakan perawat pelaksana di IGD bukan perawat rawat inap,  VVIP, Super VIP, President Suite, rawat jalan, ICU dan IBS juga bukan kepala perawat atau supervisor perawat.
b.      Tingkat pendidikan minimal D3.
c.       Masa kerja lebih dari 1 tahun maksimal 10 tahun dan lama kerja 8 jam sehari. Maka ditentukan jumlah sampel berdasar rumus rule of thumb (Bhisma Murti: 2006) adalah 30 perawat, yaitu dari ruang IGD di Rumah Sakit BAPTIS

D.  Variabel Penelitian
1.         Variabel bebas atau variabel independen dalam penelitian ini adalah Lama jam kerja.
2.         Variabel terikat atau variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas pelayanan kesehatan.
3.         Variabel Antisenden dalam penelitian ini adalah stres kerja.

E.  Definisi Operasional
Lama kerja adalah rata-rata jumlah waktu dalam jam yang dihabiskan oleh responden untuk aktivitas pemeberi layanan. Jam kerja adalah waktu yang digunakan saat bekerja disuatu instansi yang memiliki batas dan peraturan jam masuk dan jam pulang.
Pelayanan kesehatan adalah bentuk kegiatan interaksi sosial dengan melayani kebutuhan orang lain dalam keadaan sehat maupun sakit.
Kualitas pelayanan merupakan stadard yang harus diupayakan apabila kantor ingin memberikan kontribusi yang optimal pada pemakai jasa layanan.
 Peningkatan mutu pelayanan kesehatan menjadi salah satu tujuan utama dari berbagai tatanan pelayanan kesehatan saat ini. Rumah sakit sebagai salah satu institusi pelayanan kesehatan yang bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat sesuai standar yang ditetapkan. (Wijono, 1999).
Stres kerja adalah jumlah skor kuesioner HRSA (terjemahan dari kuesioner Hamilton Rating Scale Anxiety).
a.        Alat ukur: kuesioner HRSA (terjemahan dari kuesioner Hamilton Rating Scale Anxiety).
b.        Skala pengukuran: ordinal (stress berat, sedang, ringan).
Dalam penelitian ini, hasil pengukuran dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu:
1) Kategori gejala stress tingkat ringan : <17
2) Kategori gejala stress tingkat sedang : 18 – 24
3) Kategori gejala stress tingkat berat : 25-30
F.   Rencana Pengumpulan dan Pengelolaan Data
1)      Bahan dan Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar dalam pekerjaannya lebih mudah dan lebih baik dalam arti lebih cepat, lengkap, sistematis sehingga mudah diolah (Arikunto, 2006).
Alat yang digunakan, antara lain :
    1. Identitas responden (perawat).
    2. Lembar pencatatan hasil pengukuran stres kerja dan kelelahan kerja.
    3. Kuesioner HRSA (Hamilton Rating Scale Anxiety) untuk pengukuran stres kerja.

Pengukuran stress kerja menggunakan HRSA (Hamilton Rating Scale Anxiety), yang berisi 14 kelompok gejala yang masing-masing gejala di beri penilaian antara 0-4, dengan penilaian sebagai berikut :
1) Nilai 0: tidak ada gejala atau keluhan.
2) Nilai 1: gejala ringan
3) Nilai 2: gejala sedang.
4) Nilai 3: gejala berat.
5) Nilai 4: gejala berat sekali.
Gejala-gejala yang tertuang dalam kuesioner ini ada 14 antara lain: gejala perasaan cemas, gejala ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan, perasaan depresi, gejala somatik, gejala somatik fisik/somatik, gejala kardiovaskuler dan pembuluh darah, gejala respiratori, gejala gastrointestinal, gejala urogenital, gejala autonom, sikap dan tingkah laku.
Dan diketegorikan menjadi 3 kriteria sesuai dengan jumlah total skor yaitu; ringan (<17), sedang (18-24), berat (25-30).
2)      Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di IGD Rumah Sakit BAPTIS dimulai dari bulan Januari sampai Maret 2014.
3)      Prosedur Rencana Pengumpulan Data
Setelah mendapat rekomendasi metode pengumpulan data adalah suatu pendekatan kepada subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Hidayat, 2007 : 121). Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data melaui tahapan dari Ketua Prodi Kesehatan Masyarakat Stikes Surya Mitra Husada peneliti melakukan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut:
a.       Pengajuan ijin kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri.
b.      Pengajuan ijin kepada Kepala Rumah Sakit BAPTIS Kediri.
Teknik pengumpulan data dan pengolahan data dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.    Observasi
Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejala–gejala fisik dengan jalan mengamati dan mencatat (Soekidjo Notoatmojo, 2002: 93). Pada penelitian ini peneliti melihat dan mengamati sikap dan tingkah laku yang digunkan sebagai data stress kerja pada item nomer 14.
2.    Pengukuran
Pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kelelahan dan stres sehingga dapat diketahui seberapa besar hubungan antara tingkat kelelahan dengan stres kerja.
3.    Dokumentasi
Dalam penelitian ini menggunakan data-data dari Rumah Sakit seperti jumlah tenaga kerja dan nama perawat seRumah Sakit.
4)      Rencana Analisis Data
Untuk memperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti, maka analisis merupakan suatu langkah penting dalam penelitian. Data yang sudah terkumpul tidak berarti apa-apa bila tidak diolah, oleh karena itu perlu analisis data. Yang dimaksud metode analisis data adalah cara mengolah data yang telah terkumpul untuk dapat disimpulkan. Setelah semua data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data.
Pengolahan data dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1.        Editing
Dilakukan setelah mendapatkan data yang dikumpulkan dengan tujuan untuk mengoreksi data bila terjadi kesalahan atau kekurangan data dapat diteliti.


2.        Koding
Pemberian kode pada data sehingga memudahkan pengelompokan
3.        Entry
Memasukkan data yang telah dilakukan koding kedalam program SPSS versi 12.0.
4.        Tabulasi
Mengelompokkan data sesuai dengan variabel. Data diolah dan dianalisis dengan teknik analisis kuantitatif. Untuk pengolahan data kuantitatif dapat dilakukan dengan manual atau melalui proses komputerisasi.
Analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
a.         Uji Univariat
Dilakukan pada masing-masing variabel yaitu mendiskripsikan tentang pengukuran kelelahan kerja, juga hasil angket/kuesioner stres kerja yang disajikan dalam bentuk data. Analisis yang digunakan meliputi analisis persentase.
b.          Uji Bivariat
Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dapat dilakukan dengan uji kendall’s tau-b, karena merupakan uji untuk data ordinal. Taraf signifikan yang digunakan adalah 95% dengan nilai kemaknaan 5%. Kriteria hubungan berdasarkan nilai p-value (probabilitas) yang dihasilkan dibandingkan dengan nilai kemaknaan yang dipilih, dengan kriteria sebagai berikut:
a)      Jika p value ≤ 0,01 maka hasil uji dinyatakan sangat signifikan.
b)      Jika p value > 0,01 tetapi < 0,05 maka hasil uji dinyatakan signifikan.
c)      Jika p value > 0,05 maka hasil uji dinyatakan tidak signifikan (Hastono, 2001).
Untuk mengukur keeratan hubungan dapat dilihat berdasarkan besaran angka, yaitu:
a.         0,00 - 0,199 : Tingkat hubungan sangat rendah
b.         0,20 - 0,399 : Tingkat hubungan rendah
c.         0,40 - 0,599 : Tingkat hubungan sedang
d.         0,60 - 0,799 : Tingkat hubungan kuat
e.         0,80 - 1,00 : Tingkat hubungan sangat kuat (Sugiyono, 1999).
G.      Etika Penelitian
Etika penelitian perlu diperhatikan karena manusia memiliki hak asasi dalam kegiatan penelitian. Etika penelitian meliputi:
1.    Informed Concent
2.    Persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (Informed Concent). Inform concent diberikan sebelum penelitian dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden, yang bertujuan agar subjek mengerti maksud dari tujuan penelitian.
3.    Anonimity (Tanpa Nama)
Tanpa mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur hanya saja menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.
4.    Kerahasiaan (Confidentiality)
Hasil penelitian baik informasi maupun masalah-masalah dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Alimul, 2002 : 61).



















DAFTAR PUSTAKA
Adisamito W. 2007. Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, p : 1.
AM Sugeng Budiono. 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan KK. Semarang: Badan penerbit UNDIP
Arief , Suwadi, Sumarni. 2003. Hubungan Kecemasan Menghadapi Skills Lab Modul Shock dengan Prestasi Yang Dicapai Pada M ahasiswa FK UGM. Jurnal Penelitian.
Arthur Gyton dan John E. Hall. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (alih Bahasa: Irawati Setiawan. Jakarta: ECG.
Atik Muftia. 2005. Hubungan antara Faktor Fisik dengan Kelelahan Kerja di PT. Sinar Sosro Ungaran Semarang, Skripsi. Semarang: UNDIP.
Basmala D, Gatot, Adisasmito W. 2005. Hubungan karakteristik perawat, isi pekerjaan/job content dan lingkungan pekerjaan/job context terhadap kepuasan kerja perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Umum Daerah Gunung Jati: Makara Kesehatan. Vol. 9. No.1: 1-8.
Eko Nurmianto. 2003. Ergonomi Konsep Dasar Dan Aplikasinya. Surabaya: Guna Widya
Hastono, 2001. Analisis Data, Jakarta : FKM Universitas Indonesia.
Harrington J.M dan Gill F.S. 2003. Buku Saku Kesehatan Kerja. Jakarta: Buku Kedokteran EGC, hal: 8-9.
Lipsig D, M.D, Norman M, M.D,.1959. Hamilton Rating Scale for Anxiety. http://www.antlantapsychiatry.com/Hamilton/Rating/Scale/for/Anxiety/pdf. (23 Maret 2010).
Luknis S dan Hastono P. 2008. Statistik Kesehatan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Murti B. 2006. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Notoadmojo S. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : CV Rineka Cipta.
Nur’aini. 2004. Aktivitas Program Intervensi Pengendalian Stres Kerja Perawat Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan Keperawatan Di Unit Perawatan Intensive Rumah Sakit Haji Medan. e-USU Repository Universitas Sumatera Utara Tesis.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Pratiknya A.W. 2001. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Cetakan empat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Purwanto. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Cetakan I. Surakarta: Pustaka Belajar, pp : 210-283.
Rahmawati Y dan Purwanti S. O.2008. Hubungan Komunikasi Perawat Dokter Dengan Stres Perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Sragen . Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697. Vol. 1. No. 3: 1-11.
Rini J.F. 2002. Stress Kerja. http://www.e-psikologi.com/just-learning/.htm. (1 januari 2010).
Riwidikdo H. 2008. Statistik Kesehatan Belajar Mudah Teknik Data dalam Penelitian Kesehatan (Plus Aplikasi Software SPSS). Cetakan Lima. Yogyakarta: Mitra Cendekia Press.
Sawitri E dan Sudaryanto A. 2008. Pengaruh Pemberian Informasi Pra Bedah Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pra Bedah Mayor di Bangsal Orthopedi RSUI Kustati Surakarta: Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697. Vol.1. No.1: 13-18.
Soemanto W. 2006. Pedoman Teknik Penulisan Skripsi. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Suma’mur, 2009. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta : CV Haji Masagung.
Tarwaka, Bakhri H.A S, Sudiajeng L. 2004. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas.Surakarta: Uniba Pres, hal: 93-143.
Titik Haryanti. 2008. Hubungan antara Beban Kerja dengan Tingkat Stres Kerja di Rumah Sakit Islam Surakarta, Skripsi. Surakarta: UMS.
Wijono S. 2006. Pengaruh Kepribadian Type A dan Peran Terhadap Stres Kerja Manajer. Insan. Vol. 8. No. 3: 1-8